Home » » Falsafah Minangkabau (Alam Takambang Jadi Guru)

Falsafah Minangkabau (Alam Takambang Jadi Guru)

Pada dasarnya, alam memiliki dua sifat yang paling mendasar. Pertama, bersifat tetap, artinya alam tidak pernah berubah sejak dulu sampai kini. Semua hal yang tidak berubah itu dijadikan masyarakat minangkabau sebagai dasar atau landasan hukum dan rumusan adat. Landasan itu disebut “adat babuhua mati”. Kedua, bersifat tidak tetap artinya alam dapat berubah-berubah sesuai dengan kodratnya. Semua itu disebabkan oleh keadaan, situasi dan cuaca. Sifat ini juga dijadikan oleh orang minangkabau sebagai rumusan membuat adat, yang disebut dengan “adat babuhua sintak”.

Panakiak pisau sirauik,
Ambiak galah batan lintabuang,
Silodang ambiak ka nyiru
Satitiak jadikan lawik
Sakapa jadikan gunuang
Alam takambang jadi guru

Kedua hal ini dijadikan sebagai falsafah “alam takambang jadi guru”.

Alam merupakan tempat hidup dan sumber kehidupan manusia. Maka dari itu manusia haruslah memanfaatkan alam dengan optimal. Semua yang terdapat di Alam ini, memiliki kegunaannya masing-masing serta memiliki makna penciptaannya.  

Dalam kata pusaka telah dijelaskan, yaitu

Nan lunak ditanam baniah
Nan kareh dibuek ladang
Nan bancah palapeh itiak
Ganangan ka tabek ikan
Bukik batu ka tambang ameh
Padang laweh bakeh taranak

Ka rimbo babungo kayu
Ka sungai babungo pasia
Ka lawik babungo karang
Ka sawah babungo padi
Ka tambang babungo ameh


Informasi apa yang didapatkan dari kata pusaka tersebut?. Ternyata orang minangkabau terdahulu tidak hanya mengenal dunia agraris  saja, tetapi juga telah mengenal pertambangan.  Alam mereka jadikan sebagai landasan untuk merumuskan dan menyusun ajaran adat.  Kemudian mereka menjadikan alam sebagai sumber hidup dan kehidupan mereka. Apapun yang diberikan alam, mereka jadikan sebagai sumber kesejahteraan sumber daya alam. Memanfaat pemberian alam untuk memenuhi semua kebutuhan mereka.Demikianlah arti alam bagi orang minangkabau.

Comments
0 Comments

0 komentar disini:

Post a Comment

Translate