Minangkabau tidak hanya berbicara tentang sejarah atau wilayah adat, namun juga memiliki karya sastra yang unik dan mempunyai ciri khasnya tersendiri. Salah satu karya sastra minangkabau adalah menggunakan bahasa minangkabau sebagai mediumnya. Dalam hal ini, kita melihat budaya minangkabau dari sisi yang berbeda. Karya sastra ini menggambarkan atau mendeskripsikan kehidupan masyarakat dalam kurun waktu tertentu.
Karya sastra minangkabau, berbicara tentang masyarakat minangkabau baik kebiasaan, adat istiadat, tatapergaulan, dan falsafah yang di anut. Karya sastra minangkabau dibagi menjadi dua jenis. Pembagian tersebut didasarkan pada penggunaan bahasanya atau cara pengungkapan bahasanya. Karya sastra yang dimaksud yaitu:
Pertama, karya sastra prosa. merupakan karya sastra yang pengungkapannya dengan bahasa berirama tetapi sajiannya dalam bentuk prosa. Prosa minangkabau mulanya di ungkapkan secara lisan. Hal ini berlangsung cukup lama. Setelah masyarakat minangkabau mengenal aksara arab, prosa ditulis dalam aksara arab yang di sebut dan dikenal dengan “tulisan arab melayu”. Ketika aksara latin dikenal, prosa tersebut juga dituliskan dalam aksara latin.
Sekian banyak sastra prosa yang terdapat dalam minangkabau, yang bertahan hingga sekarang adalah “kaba”. Kaba sudah banyak dibukukan. Kaba berkisar tentang kehidupan manusia. Kaba dapat dibagi menjadi dua jenis, yaitu kaba klasik dan kaba baru. Kaba klasik mengisahkan kehidupan masyarakat minangkabau pada masa dahulu. sedangkan kaba baru mengisahkan tentang kehidupan dan peristiwa masa kini.
kaba klasik tersebut seperti sabai nan aluih, cindua mato, talipuak layua, anggun nan tungga, si umbuik mudo, gadih rantih dlln. Untuk mengetahui kisah-kisah masing-masing kaba tersebut, diharapkan bagi anda untuk membaca kaba tersebut.
Kedua, karya sastra puisi minangkabau, terdiri dari beberapa jenis diantaranya pantun, pasambahan, alua, dan pidato adat. puisi merupakan karya sastra yang diungkapkan dengan bahasa yang terikat, terlihat pada iramanya, baris dan baitnya.
Coba perhatikan pantun minangkabau berikut ini:
Rang gadih mangarek kuku
Dikarek jo pisau sirauik Takarek batuang tuo Batuang tuo elok kalantai Nagari bakaampek suku Bahindu babuah paruik Kampuang dibari batuo Rumah di bari batungganai |
Kedua pantun tersebut selain terikat oleh baris dan baitnya, juga terikat oleh persamaan bunyi pada bagian akhir setiap baris. 4 baris pertama merupakan sampiran dan 4 baris terakhir merupakan isi.
Contoh pantun lainnya yaitu:
Kamuniang ditangah balai
Ditutuah batambah tinggi Barundiang jo urang tak pandai Bak alua pancukia duri |
Pada puisi ini, terdiri dari 2 baris pertama merupakan sampiran dan 2 baris terakhir merupakan isi.
