Home » » Kelarasan Koto Piliang di Minangkabau

Kelarasan Koto Piliang di Minangkabau

Pelaksanaan pemerintahan dalam kelarasan koto piliang menurut pada yang digariskan dari atas. Dalam nagari, pemerintahan di pimpin oleh seorang pengulu pucuak. Pengulu pucuak ini dalam melakukan tugasnya dibantu oleh pengulu kaampek (ke-empat) suku. Dibawah pangulu pucuak ada lagi pangulu andiko  yang langsung berhubungan dengan rakyat.

Jadi dapat disimpulkan, dalam kelarasan koto piliang pangulu memiliki tingkatan, tingkatan tersebut yaitu :
1.       Pangulu pucuak. Adalah pangulu yang tertinggi dan memiliki kekuasaan tidak terbatas.
2.       Pangulu kaampek (keempat) suku. Yaitu pangulu yang membantu pangulu pucuak dalam melakukan tugasnya.
3.       Pangulu andiko. Pangulu yang langsung berhadapan dengan rakyatnya.

Menurut kelarasan koto piliang, sembah datangnya dari rakyat, dan titah datangnya dari raja (pangulu).  Hal ini dalam minangkabau dikenal dengan istilah “titiak dari ateh”, artinya segala kebijaksanaan berasal dari atas. Masyarakat tidak di ikutsertakan dalam pengambilan kebijaksanaan.

Berhubungan dengan penyelesaian masalah dalam masyarakat, koto piliang memberlakukan sistem yang dikenal dengan “ bajanjang naik. batanggo turun”. Maksudnya adalah masalah yang terjadi dalam masyarakat, penyelesaiannya dimulai dari tungganai. Jika tungganai tidak mampu menyelesaikan permasalahan tersebu, maka akan di lanjutkan ke tingkat pangulu andiko. Jika pada tingkat pangulu andiko, permasalahan tersebut juga tidak selesai maka akan berlanjut kepada tingkat pangulu kaampek suku. Jika permasalahan tersebut juga tidak dapat terselesaikan, barulah terakhir permasalahan tersebut di selesaikan oleh pangulu pucuak. Pangulu pucuak mengambil keputusan terhadap permasalah tersebut dan keputusan tersebut adalah keputusan mutlak.

Menurut tambo daerah kekuasaan atau kebesaran koto piliang adalah langgam na tujuah dan basa ampek balai.
Langgam nan tujuah terdiri dari : (1) singkarak - saniangbaka, camin taruih koto piliang, (2) sulik aia-tanjuang balik, cumati koto piliang, (3) padang gantiang, suluah bendang koto piliang, (4) saruaso, payuang panji koto piliang, (5) labuatan – sungai jambu, pasak kungkuang koto piliang, (6) batipuah, harimau koto piliang, (7) simawang – bukik kanduang, padamaian koto piliang.
Basa Ampek Balai terdiri dari : (1) bandaharo di sungai tarab, pamuncak koto piliang, (2) indomo di saruaso, payuang panji koto piliang, (3) kali di padang gantiang, suluah bendang koto piliang dan (4) makudum di sumaniak, aluang bunian koto piliang.

Selain basa kaampek balai ini adalagi seseorang yang bernama Tuan gadang yang berkedudukan di batipuah. Ia menjabat panglima seluruh minangkabau. Dengan susunan itu koto piliang di kenal dengan “lareh nan panjang”.

Sistem pemerintahan Koto piliang
Tadi sudah dijelaskan bahwa koto piliang bersifat otokrasi atau berdaulat kepada raja. Kekuasaan berada di tangan raja.  Raja tersebut dalam aliran koto piliang minangkabau disebut dengan panglu pucuak.

Dalam aliran otokrasi, adatnya bisa dikatakan amat keras.  Semua yang berhubungan dengan ketentuan harus dilaksanakan.  Dalam koto piliang juga tidak boleh bertindak sewenang-wenang, tapi harus mengikuti aturan  dan ketentuan, atau harus sesuai dengan ketetapan adat. hal tersebut sesuai dengan ungkapan berikut :
Nan babarih nan bapaek
Nan baukua nan bakabuang
Curiang barih buliah diliek
Cupak panuak gantang babubuang

Walaupun koto piliang bersifat otokrasi, dalam  penyusunan ketentuan dan peraturan bersifat demokrasi.  Ditingkat pangulu pucuak bersama-sama dengan pangulu dari suku secara musyawarah dan mufakat menetapkan segala ketentuan dan peraturan yang akan dilaksanakan.

Cara pengambilan keputusan
Cara pengambilan keputusan dalam koto piliang sesuai dengan istilah “bajanjang naik, batanggo turun”.  Artinya permasalahan datang dari bawah yaitu rakyat, lalu di selesaikan secara bertahap sesuai dengan tingkatannya. hingga nantinya sampai kepada pangulu pucuak. Dari pangulu tertinggi ini turun lagi secara bertingkat hingga akhirnya sampai ke pada rakyat.

Lalu, bagaimana kalau seandainya pangulu pucuak dalam nagari tersebut tidak mampu menyelesaikan masalah dan tidak bisa mengambil keputusan?. Mungkin persoalannya sangat rumit. Dalam kasus seperti ini  pangulu pucuak akan membawa persoalan tersebut ke tingkat nagari. Ia akan melibatkan pangulu pucuak dalam nagari lain untuk memecahkan masalah secara musyawarah. Hal tersebut dibenarkan dalam adat minangkabau, seperti yang di ungkapkan dalam kato pusako (kata pusaka), yaitu pangulu samalu, duduak sahamparan, tagak sapamatang”. 

Comments
0 Comments

0 komentar disini:

Post a Comment

Translate