Home » » Kelarasan Bodi Caniago Minangkabau

Kelarasan Bodi Caniago Minangkabau

Menurut tambo, pada masa dahulu, datuak parpatih nan sabatan berbagi wilayah dengan datuak katumanggungan. Di sana disebutkan bahwa daerah kebesaran datuak parpatih nan sabatang berada di Tanjuang nan ampek, dan lubuak nan tigo. 
Tanjuang nan ampek terdiri dari : tanjuang alam, tanjuang sungayang, tanjuang barulak, dan tanjuang bingkuang.
Lubuak nan tigo terdiri dari : lubuak sikarah, lubuak simaung, dan lubuak sipunai.
Susunan kebesaran itu dalam minangkabau di namakan dengan “lareh nan bunta” (laras yang bundar).

Sistem demokrasi bodi caniago
Seperti yang telah di sebutkan, aliran ini bersifat ‘ barajo ka mufakat”.  Dalam sistem ini pengulu dengan rakyat tidak ada pembatas, artinya dalam kepemimpinannya pengulu langsung kepada rakyat. Sistem ini juga berdaulat kepada rakyat artinya kekuasaan tertinggi berada di tangat rakyat. Segala kebijaksanaan yang berhubungan dengan politik pemerintahan selalu melibatkan rakyat dalam pengambilan keputusan dan ketentuan. Musyawarah menjadi inti dalam mengambil kebijaksanaan . dalam adat disebut juga dengan “ barajo ka mufakat – tuah dek sakato”. Kekuasaan pengulu dalam pemerintahan adat juga sama, biasanya dikenal dengan sebutan “ pucuak bulek, urek tunggang”. Istilah tersebut artinya adalah kekuasaan pengulu sama didalam nagari.

Dalam kato pusako (kata pusaka) di ungkapkan :
Putuih rundiang dek sakato
Rancak rundiang disapakati
Di lahia alah samo nyato
Di batin samo di lihati

Talatak suatu di tampeknyo
Di dalam cupak jo gantang
Di lingkuang barih jo balabeh
Nan dimakan mungkin jo patuik
Dalam kanduangan adat jo pusako

Cara mengambil keputusan
Pengambilan keputusan dalam kelarasan bodi caniago adalah melalui musyawarah dan mufakat. Artinya jika ada masalah-masalah dalam kaum maupun nagari , kesepakan untuk mengatasi dan menangani masalah tersebut harus melalui musyawarah terlebih dahulu. dalam musyawarah tersebut setiap anggotanya saling memberikan pendapat, ide dan saling bertukar kata. Dalam istilah minangkabau dikenal dengan ungkapan “basilang kayu dalam tungku, disinan api mangko iduik, disinan nasi mako masak”.

Setiap keputusan yang diambil bukan didasarkan pada kehendak segelintir orang atau pihak tertentu, tetapi di ambil berdasarkan kadar atau ukuran tertentu, atau dalam minangkabau dikenal dengan ukuran menurut “cupak dan gantang adalah , barih jo balabeh”, seperti yang diungkapkan pada kato pusako yang kita sebutkan di atas. Cupak dan gantang adalah alat untuk menentukan atau mengukur sesuatu. Ukuran tersebut sudah di sepakati oleh masyarakat sebelumnya. Ukuran tersebut jua yang di pakai untuk mengambil keputusan. Bari jo balabeh adalah rambu-rambu atau batasan yang telah di sepakati semula. Berdasarkan itu jualah keputusan di ambil.

Setiap pendapat yang diberikan harus bermuara pada satu titik. Titik tersebut adalah “talatak sasuatu di tampeknyo” artinya kesesuaian keputusan dengan masalah yang dibicarakan. Sesuatu dikatakan masalah jika belum terletak pada tempatnya, atau terjadi ketimpangan antara yang seharusnya dengan kenyataan yang dihadapi. Maka dari itu titik dalam pengambilan keputusan  ialah terletak sesuatu pada tempatnya.

Jika seandainya keputusan sudah di ambil atau sudah terletak pada tempatnya, namun musyawarah belum selesai, dapat dikatakan keputusan tersebut bukanlah keputusan akhir. Masih ada ukuran lain yang harus digunakan. Ukuran lain yang dimaksud adalah “alua jo patuik jo mungkin”. Alur adalah hukum atau ketentuan, patut adalah kepantasan atau kewajaran, dan mungkin adalah dapat dilaksanakan. Jadi keputusan harus di ambil berdasarkan ukuran tersebut. Jika sudah memenuhi ukuran tersebut, masih ada ukuran lain yang harus dipertimbangkan yaitu “adat jo pusako”.

Dari hal tersebut, sekarang kita tahu bahwa proses pengambilan keputusan dalam bodi caniago tidak bisa sembarangan. Proses tersebut mengikuti ukuran dan aturan atau memiliki tingkat-tingkat. Jadi jika mengambil keputusan harus mengikuti tingkat-tingkatnya. Apabila telah mengikuti tingkat ukuran tersebut, dalam adat minangkabau dinamakan dengan “mangaruak saabih gauang, maawai sahabih raso”. Maksudnya, setiap keputusan yang di ambil telah dikaji dari berbagai sudut dan tidak ada lagi perasaan tidak puas  atau perasaan tidak setuju dibelakangnya. Semua aspirasi telah tertampung didalamnya.

Comments
0 Comments

0 komentar disini:

Post a Comment

Translate